Graffiti, Vandal atau Seni?

Graffiti di salah satu sudut kota Jogja. foto: @Asli_Wong_Jogja

Graffiti, kalau di Google Translate artinya coretan.

Semua orang pasti setuju kalau graffiti itu digolongkan seni. Dan semua orang pasti akan membela kalau graffiti dikatakan vandal.

Saya sendiri setuju kalau graffiti itu dikatakan sebuah karya seni.  Tetapi sedikit tergelitik dalam benak saya, benarkah graffiti bukan vandal?

Cobalah keliling Jogja, kota tempat tinggal saya sekarang. Mungkin apa yang ada di benak saya itu benar adanya. Kenapa? Menurut saya, Jogja dan DI Yogyakarta menjadi cenderung kumuh, kalau boleh saya bandingkan dengan Bali, kota kelahiran saya. Di setiap sudut kota dan desa penuh coretan, entah itu coretan nama genk entah itu coretan gambar yang bagus bahkan signboard Superindo di dekat rumah pun berisi coretan.

Balik lagi ke graffiti itu vandal atau seni..

Bagi saya seni itu hasil cipta, rasa dan budaya si pembuatnya. Seni itu tidak merugikan orang lain. Seni itu bisa dinikmati oleh sedikit atau banyak orang dan semua difinisi yang enak-enak.

Pernahkah terpikirkan bahwa graffiti itu vandal? Secara umum pasti mengatakan tidak. Kenyataannya, segala hal yang merupakan kebalikan dari pernyataan dan difinisi seni tadi, bisa dimasukkan kategori vandal.

Saat si seniman graffiti akan menggambar dinding sebuah toko, mestinya si seniman meminta ijin pemilik toko dulu kan. Nah, bisa jadi si pemilik toko itu sebenarnya tidak rela kalau dinding tokonya digambari, tetapi atas nama seni, terpaksa dia merelakan dinding tokonya di graffiti. Apalagi jika si seniman berpenampilan serem dan beramai ramai saat minta ijin.

Di sudut lain kota Jogja, ada bangunan tua dan kosong, tetapi dindingnya penuh dengan graffiti sehingga bangunan dan kesan heritage-nya menjadi tidak kelihatan.

Pernah juga melihat, dinding rumah yang dilapisi batu alam, tetapi batu alamnya sudah tidak kelihatan lagi tertutup oleh gambar graffiti. Kasian arsitek rumah itu jika melihat hasil karyanya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Di Fly Over Jombor, yang saat ini belum selesai dibangun, di bagian sampingnya sudah bergraffiti.

Pernah juga melihat, sebuah rumah memasang tulisan dilarang corat-coret di dinding ini

Saya bukan menolak graffiti, tetapi alangkah indahnya kalau di tempat-tempat tertentu bisa saling bersanding .

Patung Akar di 0 Kilometer, Siapa Yang Salah?

Patung Akar di belakang UPT Malioboro. foto: @liputan6dotcom

berkecamuk dalam pikiran tentang penjelasan Patung Akar di 0 Kilometer yang begitu lama bertahan, masih saat obrolan santai dengan Pengurus Kota waktu itu.

Kenapa patung itu bisa begitu lama bertahan? Kenapa Pengurus Kota seperti membiarkan patung itu berada di situ? Kenapa senimannya tidak memindahkannya? dan kenapa kenapa lainnya..

Kalau dari sisi Ruang Publik, area Titik 0 Kilometer ( dan ruang publik lainnya ) sebaiknya mempunyai peraturan-peraturan yang harus diketahui oleh masyarakat umum, seniman, event organizer, komunitas sampai pedagang asongan dan yang sering berkaitan dengan penggunaan ruang publik itu.

Senimanpun hendaknya mengerti, bahwa pameran di ruang publik itu tentu ada batasan waktunya. Tidak hanya satu seniman yang membutuhkan ruang publik, sehingga mereka semestinya sadar bahwa masih banyak seniman lain yang membutuhkan tempat berpameran dengan biaya murah.

Pengurus Kota-pun hendaknya sadar, bahwa ruang publik itu bukan hanya ruang publik yang bisa dipergunakan dengan bebas sebebas bebasnya, tetapi ruang publik yang bebas terbatas, ruang publik yang bebas tapi ada aturan mainnya. Sehingga perlu dibuatkan aturan-aturan, bukan hanya aturan saja, tetapi penerapan pelaksanaannya. Percaya, Pengurus Kota psti sudah punya aturannya. Bukan hanya kalau ada kepentingan tertentu baru peraturannya berlaku.

Patung Akar, seni instalasi yang mungkin pemegang rekor pameran terlama di Titik 0 Kilometer, adalah karya seni menjadikan Pengurus Kota serba salah untuk ‘memindahkan’nya. Kalau dipindahkan begitu saja, takut dibilang tidak mendukung seniman berkarya. Kalau tidak dipindahkan, sakjane yo rapopo sih.. patung itu jadi obyek foto, karakter patung itu tidak pas dengan lingkungannya dan patung itu terlalu lama di situ dan banyak menjadi pertanyaan orang baik positif maupun negatif

Patung Akar di 0 Kilometer, Apa Kata Pengurus Kota?

Patung Akar. foto: @YandiNcex

‘Hilangnya’ Patung Akar di 0 Kilometer sedang menjadi pembicaraan masyarakat Jogja. Ada yang bilang karena ditekan oleh salah satu ormas, mbuh ormas berpeci atau ormas berkatok..

Lebih dari setahun lalu saya pernah bertanya ke salah satu ‘Pengurus Kota’ tentang Patung Akar ini, kenapa patung itu bisa bertahan begitu lama di sana. Jawaban yang saya terima waktu it adalah ‘kita tidak tahu seniman siapa yang membuat dan memasang patung itu, jadi kita tidak berani memindahkan tanpa ijin senimannya.’

‘Ini kan Kota Budaya, kita tidak bisa dengan mudah menggusur karya seni yang dipajang. Disamping itu, untuk memindahkan patung sebesar itu butuh biaya banyak. Semestinya senimannya sendiri yang memindahkannya’ begitu lanjutnya.

Saya cuma mantuk-mantuk saja waktu itu, masih dengan pikiran yang bersliweran tentang Patung Akar itu. Obrolan santai dengan Pengurus Kota waktu itu masih berlanjut.

 

Mai ngeBlog Pang Sing Belog

Sudah lama banget nggak ngeblog. Sejak erupsi Merapi 2010 …
Kesibukan ngurus akun twitter informasi kota sendirian menyebabkan terbengkelainya blog ini. Tidak pernah di-Update!!!
Tag Bali Blogger ‘Mai ngeBlog Pang Sing Belog’ sering banget terlintas.. keinginan ngeblog sering juga terlintas.. tapi apa daya untuk ngeblog lagi harus punya niat yang luar biasa.. aktifitas blogging dikalahkan dengan mikroblogging..
Semoga setelah tulisan ini.. keinginan ngeblog lagi bisa terlaksana dan nggak belog lagi..

Kaos JugaUpdate

Kaos “Juga Update”

Kaos ini saya desain sendiri, untuk produksinya bekerjasama dengan @ngartun

Kaos JugaUpdate ini dibuat sebagai produk ke-2 dari @JogjaUpdate yang bekerjasama dengan @ngartun (desain sebelumnya adalah Kaos Tugu yang dibuat dikaitkan dengan Tahun Baru 2013), tema ini diangkat dalam rangka Ulang Tahun JogjaUpdate ke-3 yang jatuh pada 31 Maret 2013.

ada cerita menarik tentang kata JugaUpdate atau mungkin lebih tepatnya #JugaApdet, kata ini sempat populer di bulan puasa tahun 2011. #JugaApdet merupakan pertanyaan-pertanyaan plesetan dari akun twitter @JogjaUpdate yang sering meretweet pertanyaan-pertanyaan followernya, baik pertanyaan serius maupun pertanyaan yang remeh. Pertanyaan-pertanyaan hampir sama seperti di JogjaUpdate tetapi diubah jadi pertanyaan konyol yang membuat penikmat twitter ikut saling melontarkan twit-twit konyol dan lucu sembari menunggu sahur.

Di bulan puasa 2012 ‘permainan’ #JugaApdet muncul lagi hingga menjadi trending topic nasional.

Kenapa JugaUpdate? Ini tidak bermaksud meniru dari cerita di atas, tetapi lebih ke arah kebanggaan menggunakan kaos ini. JugaUpdate.. saya JugaUpdate.. saya tidak ketinggalan berita dan cerita tentang Jogja, itulah kira-kira pesan yang dibawa jika menggunakan kaos ini.

Dan bukan JugaApdet atau JogjaUpdate? Kebetulan selain @JogjaUpdate saya juga yang memiliki akun @JugaUpdate . Akun JugaUpdate ini terinspirasi dari 2 momen, yang pertama adalah Kaos Update Banget-nya @detikcom , saya memiliki kaos Update Banget yang diberikan oleh @budionodarsono founder @detikcom pertengahan tahun 2010 waktu itu saya sudah bertekad untuk membuat kaos sejenis itu. Yang kedua adalah hashtag #JugaApdet tahun 2011

Insya Allah saya bisa mengirimkan kaos ke pemberi inspirasi

-

Jika berminat untuk memiliki kaos ini, silakan untuk memesan dengan cara seperti yang ada di bawah ini..

Kode: KJU-Putih / KJU-Hitam | Bahan: Cotton Combed 24S | Sablon: Rubber

“Pre Order” :

5-23 Maret 2013: Pemesanan dan Pembayaran

23-28 Maret 2013: Produksi

28 Maret 2013: Pengiriman

Cara Pemesanan:

ketik :  nama / alamat / nomer HP / kode / ukuran / jumlah ke 0857 2580 7088

ketik :  nama / alamat / nomer HP / kode / ukuran / jumlah ke PIN BB 25a4ff70

ketik :  nama / alamat / nomer HP / kode / ukuran / jumlah mention ke twitter @ngartun